Buku
ini terdiri dari beberapa bab, bab pertama permasalahan penyakit dalam
akuakultur, bab kedua penyakit bakterial dalam akuakultur, bab ketiga
penyakit fungal pada ikan, bab keempat penyakit viral pada ikan, bab
kelima penyakit infeksi parasiter, bab keenam diagnosa, bab ketujuh
pengendalian penyakit ikan, bab kedelapan penyakit non infeksi dan bab
terakhir penyakit zoonosis.
Sejalan dengan semakin berkembangnya
akuakultur di seluruh dunia, beragam organisme akuatik dibudidayakan
untuk industri dan kebutuhan masyarakat. Spesies yang memiliki kemampuan
adaptasi terhadap lingkungan juga semakin bervariasi dan meningkat pada
60-70 tahun terakhir. Spesies yang dibudidayakan antara lain: oyster,
kerang, udang, lobster, ikan mas, tilapia, lele, bandeng, sidat, kerapu,
dan sunu.
Akan tetapi dalam kegiatan budidaya, penyakit merupakan faktor yang sangat berarti dalam menurunkan produksi dan income, kerugian yang ditimbulkan cukup besar. Dampak yang ditimbulkan (multiplier effect)
karena wabah penyakit tidak hanya dirasakan oleh pembudidaya, tetapi
juga terhadap industri pakan ikan/udang, industri mesin (pompa dan
kincir) dan tenaga kerja (Yanto, 2006).
Beberapa kasus penyakit ikan di Indonesia diantaranya; wabah parasit Ichtyopthrius yang menyerang berbagai jenis ikan hias air tawar pada tahun 1932, selanjutnya pada tahun 1971 terjadi serangan parasit Lernaea, dan serangan parasit Myxobolus di tahun 1974 (Djajadiredja et al., 1983), disusul infeksi parasit Myxosoma
pada tahun 1979 yang juga menginfeksi ikan air tawar. Tidak kalah
besarnya juga kerugian yang dilaporkan dari berbagai sentra budidaya
ikan Cyprinus yang terinfeksi Koi Herpes Virus (KHV) di sekitar
tahun 2000-an. Kerugian yang ditimbulkan tidak selalu berupa kematian,
tetapi juga lambatnya pertumbuhan serta penurunan kualitas.
Infeksi parasit pada ikan misalnya dapat merusak penampilan ikan dan
merusak rasa sehingga menurunkan harga pasar atau bahkan tertolak untuk
persyaratan ekspor.
Garansi terhadap buku yang rusak atau halaman yang hilang.